Ketenteraman Hati

May 21st, 2010

Ketenteraman Hati

By: agussyafii

”Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati kita menjadi tenteram. (QS. ar-Raad : 28)

Mengingat Allah membuat hati kita menjadi tenteram. Mengingat Allah berarti kita menyadari dan merasakan cahaya kasih sayang dan keberadaan Allah dihati kita. Hadirkan kesadaran itu dari pikiran, mata, mulut, tangan, tubuh dan kaki kita sebagai sebuah aktifitas penyebar kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta”ala. Coba rasakan apa yang terjadi pada tubuh kita disaat kita menebarkan Kasih SayangNya. Melempar sebuah senyuman. Bertegur sapa dengan tetangga. Membezuk teman yang sakit. Menghadiri acara pernikahan teman. Membantu seorang nenek menyeberangkan jalan. rasanya seluruh tubuh kita dipenuhi dengan rasa hangat dan nyaman. Metabolisme tubuh kita terasa bugar, hati terasa tenteram dan hidup seolah berada ditaman bunga, penuh kebahagiaan.

Coba bayangkan bila hati kita dipenuhi dengan amarah, kebencian dan kedengkian. Ketika hati penuh kebencian, amarah dan kedengkian senantiasa kita melihat persoalan dengan sudut pandang negatif. Ibaratnya bila kita menggunakan kacamata hitam apapun yang kita lihat semuanya terasa gelap sekalipun di ruang yang terang benderang. Maka membuat hati kita menjadi sakit. hati yang sakit selalu sesungguhnya hati yang gelap. Kegelapan yang menyelimuti hati karena dikotori oleh hawa nafsu dan ego yang tiada henti. Padahal dalam hati senantiasa hadir cahaya kasihNya yang memberi penerangan. Maka buanglah bencimu.

Hidup dengan penuh kasih sayang Allah adalah hidup yang terindah. Menyadari dan merasakan Kasih-Nya. Dengan demikian menyadari dan merasakan Kasih Sayang-Nya telah membuat hati kita menjadi tenteram sehingga muncul kelapangan dan rasa optimis di dalam hidup kita bahkan kemudian kita melanjutkan Kasih SayangNya yang kita rasakan dengan berbagi dan peduli terhadap penderitaan sesama. Itulah yang membuat hati kita menjadi tenteram.

Wassalam,
agussyafii
—-
Yuk, hadir di Kegiatan ”Amalia Cinta al-Quran (ACQ).” Hari Ahad, Tanggal 20 Juni 2010 Di Rumah Amalia, Jl. Subagyo IV blok ii, No.23 Komplek Peruri, Ciledug. Silahkan kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii3, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.

agussyafii Uncategorized

Keutamaan Membaca al-Quran

April 2nd, 2010

Keutamaan Membaca al-Quran

By: agussyafii

Malam yang sunyi dalam kesendirian membaca al-Quran dengan memahami makna sungguh merupakan kenikmatan tersendiri. Dengan membaca pelan sambil meresapi setiap kandungannya terasa keindahan sendiri, sebagai Allah berfirman, ”Maka bacalah al-Quran apa yang mudah bagimu untuk membacanya.” (QS 73:20). Rasulullah senantiasa mengajarkan kita agar kita mengetahui manfaat dan keutamaan membaca al-Quran diantaranya adalah.

1. Menentramkan hati, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ”Alaihi wa Salam, ” Tidaklah sesuatu kaum berkumpul di suatu masjid daripada masjid-masjid Allah, mereka membaca al-Quran dan mempelajarinya kecuali turun kepada mereka ketentraman hati, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka dan Allah menyebut-nyebut makhluk yang ada disisiNya. (HR. Muslim).

2. Penyembuh. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab ”Zadul Ma”ad menyebutkan bahwa al-Quran adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit jasmani maupun rohani, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta”ala.

”Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. 10:57).

3. Kedua Orang Tua Mendapatkan Mahkota Surga, dari Muadz Bin Anas, Rasulullah bersabda, ”barangsiapa membaca al-Quran dan mengamalkan apa yang terdapat didalamnya. Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat kelak. Dimana cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari didunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa pahala itu disebabkan amalan seperti itu. (HR. Abu Dawud).

4. Kemuliaan Dari Allah. Orang yang membaca al-Quran senantiasa mendapatkan kemuliaan dari Allah bahkan orang yang masih terbata-bata dalam membaca al-Quranpun mendapatkan dua pahala, sebagaimana sabda Nabi Muhammad,

”Orang yang membaca al-Quran dan ia mahir dalam membacanya maka ia berkumpul bersama para malaikat, yang lebih mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang masih terbata-bata dan merasa berat membacanya maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Muttafaqun ”Alaihi).

Sementara dihadist yang lain Nabi Muhammad juga bersabda, ” Bacalah dan bacalah sekali lagi bacalah dengan tartil seperti dilakukan didunia karena tempatmu terletak diakhir ayat yang engkau baca.” (HR. Tirmidzi).

5. Dibela di Akherat. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda, ”Bacalah al-Quran maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (pembela) bagi ahlinya yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya. (HR. Muslim).

Yuk, kita giatkan membaca al-Quran…

Wassalam,
agussyafii

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan ”Muhasabah Amalia (MUSA)” Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.

agussyafii Uncategorized

Tahu dan Mengenal Diri

March 27th, 2010

Tahu dan Mengenal Diri

By: agussyafii

Pak Budi menegur anaknya, ”Jono, kenapa kamu tidak bisa seperti Bobby yang nilai ulangannya tidak ada warna merahnya?”

”Jangan salahkan aku dong, Bobby kan mempunyai ayah yang pintar.” Jawab Jono santai.

Begitulah cara pandang kita berbeda dengan cara pandang anak kita. Kita pada dasarnya memiliki dua alat memandang, yaitu mata kepala dan mata batin. Pandangan mata kepala terhalang oleh dinding dan jarak. Pesawat terbang yang begitu besar, nampak sangat kecil oleh mata kepala. Bintang-bintang galaksi yang sangat besar nampak hanya kerlap kerlip kecil oleh mata kepala. Nah pandangan mata batin menembus sekat ruang dan waktu. Pandangan mata batin itulah yang disebut ma`rifat, orang yang memiliki ma`rifat disebut `arif. bukan arif dalam bahasa Indonesia.

Asal kata bahasa Arabnya `arofa –ma`rifat -`arif-ma`ruf yang arti dasarnya adalah kenal. Kenal berbeda dengan tahu. Tahu bersifat kognitif, bersifat pengetahuan, berbasis pengamatan atau teori. Sedangkan kenal sudah bersifat afektif berbasis pengalaman langsung. Ada seorang wanita yang sudah hidup bersama dengan suaminya selama 20 tahun, ternyata ia belum mengenal siapa sesungguhnya suaminya itu. Ia dibuat terkaget-kaget setelah mengenal siapa sesungguhnya manusia yang sudah seranjang selama duapuluh tahun, karena selama ini ia keliru pandang atau tertipu oleh penampilan lahir.

`Arif bukan hanya horizontal tetapi juga vertikal. Orang yang secara vertikal sudah `arif disebut mencapai ma`rifat, yaitu mengenal Allah, bukan sekedar tahu ada Allah. Oleh karena seorang `arif sudah mengenal Tuhannya sebagai Yang Maha Baik, maka ia tabah ketika menerima kegagalan atau musibah, karena boleh jadi musibah itu hanya sekedar ujian yang diberikan Allah kepadanya. Ia sadar-sesadarnya bahwa kesulitan adalah bagian dari sistem kehidupan. Ia sadar bahwa Allah Subhanahu Wa Ta”ala menciptakan sistem hukum dimana tidak ada gelap yang selamanya, setiap habis gelap pasti terbit terang.

Begitupun dalam hidup, dibalik kesulitan ada kemudahan. Orang arif tetap tersenyum dalam kesulitan, bersiap kecewa dan sedihpun tanpa kata-kata, karena ia melihat makronya kehidupan, bukan mikronya. Sedangkan orang yang belum `arif mudah frustrasi, mengeluh dalam kesulitan, tidak siap kecewa, dan jika bersedih ia ungkapkan dengan berbagai kata cacian,karena ia hanya bisa melihat kehidupan secara mikro dengan dirinya menjadi pusat perhatian. Kata hadis Nabi, seorang `arif adalah juga orang yang sudah mengenali siapa dirinya dalam struktur makro, horizontal dan vertikal, maka iapun tahu diri. Jika orang sudah benar-benar mengenal siapa dirinya, pasti ia mengenal siapa Tuhannya, man `arofa nafsahu `arofa robbahu.

Wassalam,
agussyafii

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan ”Muhasabah Amalia (MUSA)” Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.

agussyafii Uncategorized

Menghayati Hidup Dengan Kasih Sayang

March 20th, 2010

Menghayati Hidup Dengan Kasih Sayang

By: agussyafii

Secara psikologis orang yang sehat adalah orang yang mampu mendermakan cinta pada sesamanya. Sedangkan orang yang hatinya dipenuhi rasa permusuhan, dengki, cemburu dan kebencian semuanya merupakan beban mental yang menjurus pada penyakit kejiwaan.

Dalam Islam, penghayatan kasih sayang digunakanlah istilah ridha. Pengertian ridha adalah sikap yang didasari pengetahuan, kesadaran dan keyakinan bahwa kasih sayang Allah meluap memenuhi ruang dan waktu. Sesungguhnya hidup kita dalam lingkup kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta”ala. Sikap ridha akan selalu berpikir positif terhadap hidup karena dibalik fragmen kehidupan terkadang ada adegan-adegan yang pahit dan buram mekipun terkandung hikmah dari pancaran kasih sayang Allah.

Bagi orang yang mencapai derajat ridha akan selalu melihat hikmah dibalik musibah maupun cobaan. Setiap musibah menyimpan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Allah melimpahkan kasih sayangNya. Dan kemungkinan kedua, karena kelalaian manusia itu sendiri. Dengan demikian ritme hidup kita ditandai dengan dialektika rasa syukur dan sikap sabar. antara harapan dan kecemasan, antara kelegaan dan penyesalan. Namun semua itu bagi orang yang ridha akan dihadapinya dengan sikap optimis dan pandangan positif karena begitu yakinnya akan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta”ala yang dibentangkan melalui sayap Rahman dan RahimNya dan disisi lain melalui tawaran taubat dan maghfiroh atau ampunan.

Menurut al-Quran dijelaskan bahwa kehidupan dunia itu baik tetapi jauh lebih baik kalau kebaikan di dunia dijadikan wahana atau tangga untuk menuju kehidupan akherat yang lebih baik. ”The will to love” yang secara intrinsik dimiliki oleh kita akan menyesatkan kalau hanya mencintai yang fana atau semu. Maka bentuk ancaman dan perintah Allah yang tertuang di dalam kitab suci semuanya dalam konteks kasih sayang Allah untuk menyelamatkan kita agar tidak terjatuh menjadi hawa nafsunya sendiri atau menjadi hamba makhluk yang lebih rendah atau sama derajatnya dengan diri kita.

Rasa keterasingan, kesunyian ditengah keramaian, merasa kesepian dalam kesendirian akan terkikis secara emosional apabila kita memiliki hubungan yang hangat dengan Yang Maha Kasih. Ketiadaan hubungan kepada yang Maha Kasih inilah yang menimpa banyak orang sehingga begitu mudahnya terseret pada situasi putus asa bahkan sampai bunuh diri. Berdasarkan survei penyebab bunuh diri ditengah masyarakat justru bukanlah masalah yang teramat berat. Diantaranya karena kekecewaan akibat putus cinta, perselisihan rumah tangga, gagal dalam karier telah membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Hal ini menunjukkan betapa dangkal dan lemahnya iman seseorang dalam menghayati hidup.

Dalam pandangan Islam, mereka telah terperosok dalam ”pinggiran” dimensi spiritual yang mampu menangkap dan merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta”ala dalam dirinya tidak bisa berfungsi. Hatinya telah tertutupi oleh nafsu bagi masuknya cahaya dan kasih sayang Allah sehingga mereka juga kehilangan kasih sayang yang ada pada dirinya.

Demikianlah bila dunia hanya pendekatan sistem, teknis dan teknologi semata akan memunculkan kehidupan yang kering, mekanik dan tidak manusiawi. Produk sistem dan teknologi tanpa visi cinta dan kasih sayang Ilahi Robbi maka menjadikan hidup kita tak ubahnya seperti robot, kesepian dalam keramaian, kesendirian tak berteman.

Paradigma kasih sayang akan menuntun kita sikap arif dan konsisten untuk mengembangkan potensi kemanusiaan maka realitas dunia tampak begitu indah sekaligus challenging, bukan fringtening. Orang Mukmin adalah ”Lover of Wisdom” atau Cinta Kearifan. Karena cinta kearifan dan semangatnya pada kemanusiaan maka Nabi Muhammad Shalallahu ”Alaihi wa Salam semakin nampak tegar dan anggun ditengah cobaan dan tantangan yang selalu menghadang dan mengitarinya. Lantas bagaimana dengan kita? Mampukah kita meneladani Nabi Muhammad?

Wassalam,
agussyafii

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan ”Muhasabah Amalia (MUSA)” Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.

agussyafii Uncategorized

Mengingat Kematian

March 16th, 2010

Mengingat Kematian

By: agussyafii

Pernahkah seberapa banyak kita mengingat kematian dalam hidup kita? Hanya diri kita sendirilah yang tahu berapa kali kita bertanya. Jika kenyatannya kita masih sangat sedikit dalam mengingat kematian di tengah kesibukan dan semua urusan duniawi kita.

Maka perkenankan saya mengajak kepada teman2 semua, tidak ada salahnya sekali waktu kita mengingat bahwa suatu saat kita akan mati. karena kita tidak pernah tahu, kapan kematian mendatangi kita. Apa kita mau disaat kita dalam keadaan lalai, kematian datang menjemput?

Karena mengingat mati akan membuat kita seakan punya rem dari berbuat dosa. hingga di mana saja dan kapan saja kita akan senantiasa akan selalu terarahkan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita.

Mengingat kematian juga merupakan satu cara yang sangat efektif untuk dapat menaklukan dan mengendalikan diri kita. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ”Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)

Ibnu Umar ra. berkata, ”Aku datang menemui Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ”Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat’. (HR Ibnu Majah).

Yuk, kita mengingatkan kematian…!

Wassalam,
agussyafii
—-
Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan ”Muhasabah Amalia (MUSA)” Hari Ahad, Tanggal 18 April 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431

agussyafii Uncategorized

Jagoan Sejati

February 13th, 2010

Suatu hari ada seorang Guru berjalan bersama tiga orang muridnya, ketika melewati perempatan jalan mereka menjumpai bangkai binatang yang sangat besar dan baunya menyengat. Setelah sampai tujuan, mereka ditanya oleh sohibul bait, apakah mereka melihat sesuatu di perempatan jalan. Yang satu menjawab bahwa ia melihat bangkai besar sekali, yang satu lagi mengaku melihat bangkai yang baunya sangat menyengat, dan yang satu lagi mengaku melihat bangkai yang seram dilihat mata.

Giliran Sang Guru, beliau menjawab bahwa ia melihat bangkai yang giginya sangat putih. Dari empat jawaban itu mengindikasikan adanya “isi jiwa” atau pusat perhatian yang berbeda-beda. Jadi pada dasarnya siapa itu seseorang dapat dilihat apa yang dikatakan, apa yang dilaporkan dan apa yang dikeluhkan. Kata-kata mutiara berbunyi ; Kullu wi`a in bima fihi yandloh, wa kullu ina in bima fihi tarsyuh, artinya jika ada cipratan dari gelas, pasti isi gelas itu sama dengan yang mencipratnya, dan jika ada suatu wadah rembes, pasti isi wadah itu ada kesamaannya dengan yang merembes. Bagaimana akidah seseorang, bagaimana tingkat ibadah seseorang dan bagaimana kualitas akhlaknya dapat ditengarahi dari apa yang keluar atau yang
dikeluarkan olehnya.

Memang manusia bisa berpura-pura, tetapi keaslian seseorang akan muncul ketika mengalami keadaan puncak; sangat gembira, sangat sedih, sangat takut, sangat berkuasa, sangat terpojok dan sangat leluasa. Fenomena yang sering memperlihatkan keaslian seseorang antara lain adalah ketika kehilangan sesuatu, ketika ditinggalkan sesuatu, ketika ditimpa sesuatu.

Nabi bersabda; laisa as syadidu bis shur`ati innama asyadidu man yamliku nafsahu `indal aghodlobi. Artinya; jagoan itu tidak diukur dari kemampuanya bertarung, tetapi yang sebenarnya jagoan sejati adalah orang yang tetap mampu menguasai dirinya terutama ketika sedang marah. (HR. Muslim)

Wassalam,
agussyafii

—-
Tulisan ini dalam rangka kampanye program Kegiatan ”Amalia Satukan Hati (SEHATI)” Hari Ahad, Tanggal 14 Februari 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan komentar anda di http://www.facebook.com/agussyafii atau http://agussyafii.blogspot.com, http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 087 8777 12 431

agussyafii Uncategorized

Taubat

February 10th, 2010

By: agussyafii

Suatu malam di Rumah Amalia terdengar suara mengaji. Anak-anak terdengar suara riuh ramai. Setelah menghapal Asmaul Husna, saya bercerita. Semua anak-anak sudah duduk melingkar. ”Malam ini judul ceritanya apa Kak?” tanya Eko. ”Taubat” Jawab saya padanya. Kemudian saya bercerita pada anak-anak Amalia.

Dizaman dahulu kala ada orang yang bernama Malik Bin Dinar. Malik Bin Dinar memiliki kebiasaan minum-minuman keras. Ia memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan mungil. Malik sangat menyayangi buah hatinya. Ketika berusia lima tahun, Sang buah hatinya meninggal dunia. Malik sangat terpukul dan bersedih. AIr mata nyaterus mengalir tak dapat menyembunyikan kepedihan dalam hatinya.

Malamnya setelah kepergian putrinya yang dicintainya Malik minum-minuman keras. Ditengah tertidur malik bermimpi berada dalam satu tempat berkumpul dengan banyak orang. Seluruh makhluk berkumpul. Malik tiba-tiba dikejar-kejar oleh seekor ular yang sangat besar yang dari mulut mengeluarkan api. Tubuh Malik menggigil ketakutan. Sampai akhirnya Malik bertemu dengan putrinya yang disayangi. Putrinya menjelaskan bahwa ular yang mengejarnya itu adaah perbuatan buruknya yang suka minum-minuman keras.

Disaat terbangun, Malik merasa ketakutan masih terbawa, ia menumpahkan semua minuman kerasnya dan memecahkan semua botolnya. Kemudian malik bertaubat kepada Allah SWT dan menjadi taat beribadah. Allah berkuasa untuk memberikan petunjuk kepada hambaNya agar selalu berada di jalan kebenaran.

Diakhir cerita saya menjelaskan kepada anak-anak Amalia bahwa Allah SWT memiliki nama Ar-Rasyiid. Ar-Rasyiid artinya Yang Maha Pemberi petunjuk. Allah SWT Maha Pemberi Petunjuk kepada hamba-hambaNya pilihan yang bertaqwa kepadaNya, yaitu orang-orang yang mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan-Nya.


Aku mengabulkan permohonan orang yang berda apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS AL-Baqarah :186).

Wassalam,
agussyafii


Tulisan ini dalam rangka kampanye program Kegiatan ”Amalia Satukan Hati (SEHATI)” Hari Ahad, Tanggal 14 Februari 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan komentar anda di http://www.facebook.com/agussyafii atau http://agussyafii.blogspot.com, http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 087 8777 12 431

agussyafii Uncategorized

Kiat Bersabar

February 7th, 2010

Kiat Bersabar

By: agussyafii

Sepanjang kehidupan manusia, problem silih berganti datang, karena makna kehidupan itu sendiri adalah bagaimana menghadapi problem. Problem kehidupan adalah tantangan yang akan mengklasifikasi mana orang-orang baik dan tidak baik, mana orang yang tahan uji dan mana orang yang lemah. Orang mukmin akan selalu beruntung, karena ia bersyukur ketika memperoleh keberuntungan dan bersabar ketika menghadapi kesulitan.

Sebaliknya orang tak beriman selalu tak beruntung, ketika memperoleh keberuntungan ia lupa diri dan ketika menghadapi kesulitan berat ia lupa ingatan. Sabar ialah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan.

Untuk dapat bersabar, Islam mengajarkan kiat bersabar sebagai berikut:

1.Tahan ketika menghadapi hantaman pertama. Rasulullah pernah bersabda:

Innamassabru indassad matil uulaa

Artinya: Sabar yang sesungguhnya ialah ketika menghadapi hantaman pertama.

2. Ketika ditimpa musibah, segera mengingat Allah dan mohon ampunannya. Firman Allah SWT :

Artinya: (Orang-orang yang sabar ialah)  mereka yang ketika ditimpa musibah, berkata; sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Nya. (al Baqarah: 156).

3. Tidak menampakkan musibahnya kepada orang lain, seperti yang dicontohkan oleh istri Abu Talkhah (Ummu Sulaim) ketika anaknya meninggal dunia. (dikisahkan dalam hadis Riwayat Muslim).
 
4. Sabar menghadapi semua cobaan dengan ikhlas kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam hadis Qudsy:  

Hambaku yang mukmin, yang bersabar dengan pasrah kepadaKu ketika kekasihnya Aku panggil kembali (mati), kepadanya tak ada balasan yang layak dari Ku selain sorga. (HR. Bukhari)

Wassalam,
agussyafii


Tulisan ini dalam rangka kampanye program Kegiatan ”Amalia Satukan Hati (SEHATI)” Hari Ahad, Tanggal 14 Februari 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan komentar anda di http://www.facebook.com/agussyafii atau http://agussyafii.blogspot.com, http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 087 8777 12 431

agussyafii Uncategorized

Ikhlas, Sabar Dan Cerdas

February 1st, 2010

Ikhlas, Sabar Dan Cerdas

By: agussyafii

Malam terdengar suara mengaji anak-anak Amalia. Suara cengkrama anak-anak terdengar ramai. Berkelompok mereka sedang menghapal surat al-Lail, seorang anak muda sehabis maghrib bertanda ke Rumah Amalia. Kami berdiskusi hangat tentang kehidupan. Anak muda itu bertanya tentang mukhlis, shabur dan halim. Saya jelaskan bahwa Mukhlis itu artinya orang yang ikhlas, Shabur artinya orang yang sabar dan Halim artinya orang yang cerdas secara emosional dan spiritual.

‘Mas Agus, bisakah menjelaskan ketiga hal tadi?’ tanyanya.

Kemudian saya jelaskan padanya, Nampak anak muda itu mendengarkan dengan seksama. Ada anak Amalia terlihat sedang memperhatikan apa yang menjadi perbicangan kami.

‘Nah, mari kita pahami terlebih dahulu arti mukhlis,’ tutur saya padanya. Mukhlis, artinya orang yang ikhlas. Seorang dengan kualitas mukhlis adalah orang yang hatinya bersih dari keinginan memperoleh pujian. Semua perbuatannya, perkataannya, pemberiannya, penolakannya, perkataannya, diamnya, ibadahnya dan seterusnya, semata-mata dilakukan hanya untuk Allhh SWT. Oleh karena itu baginya pujian orang tidak membuatnya berbangga hati, dan kekecewaan serta caci maki orang tidak membuatnya surut. Dari deretan predikat kualitas yang dicontohkan Nabi dengan urutan Muslim, Mu”min, ”Alim (orang terpelajar), Amil (yang beramal) dan Mukhlis, maka selain mukhlis, mereka masih berpeluang mengalami kesia-siaan (halka).

Manusia dengan kualitas mukhlis adalah orang yang paling produktif bagi dirinya, meski boleh jadi tidak diakui oleh orang lain. Sementara seorang ”alim yang ”amil (orang pandai yang banyak berbuat) tetapi tidak mukhlis adalah kontra produktif bagi dirinya, meski boleh jadi memperoleh banyak penghargaan dari masyarakat. Seorang mukhlis lebih suka menyembunyikan perbuatannya dari penglihatan orang lain, sedangkan kebalikannya yaitu orang yang riya, ia hanya mau melakukan sesuatu jika diketahui orang, atau diliput berita. Orang mukhlis berbuat sesuatu demi Alloh, sedangkan orang riya melakukannya demi pujian orang.

Adapun shabir atau shabur, artinya adalah orang yang sabar atau penyabar. Menurut Imam Ghazali, sabar artinya tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Jadi orang yang bisa sabar adalah orang yang selalu ingat kepada tujuan, karena kesabaran itu diperlukan adalah justru demi untuk mencapai tujuan. Orang yang tidak sabar biasanya, karena lupa tujuan akhir, ia mudah terpedaya untuk melayani gangguan-gangguan yang tidak prinsipil, sehingga apa yang menjadi tujuan terlupakan, sebaliknya ia melakukan sesuatu yang justeru mempersulit tercapainya tujuan.. Sabarpun mengenal batas waktu, oleh karena itu jika suatu ketika mengalami kegagalan, sudah diulang gagal, diulang lagi gagal lagi, maka orang yang sabar hams berfikir mencari alternatif, karena boleh jadi sumber masalahnya justru pada keputusan awal yang kurang tepat.

Manusia dengan kualitas penyabar adalah sosok manusia yang ulet, tak kenal menyerah, tak kenal putus asa, dan tak kurang akal. Ia bukan hanya mampu mengatasi kesulitan yang datang dari luar, kesulitan tehnis misalnya, tetapi juga mampu mengatasi kesulitan yang datang dari diri sendiri, kebosanan, kemalasan atau syahwat misalnya. Al Qur”an menghargai manusia unggul yang penyabar, yakni yang sabar dan memiliki kecerdasan intelektuil, Emosionil dan Spirituil (IQ, EQ dan SQ) ,setara dengan seratus orang kafir (yang sombong, emosionil dan tak mempunyai nilai keruhanian) (Q/al Anfal, 65). Dalam keadaan normal, Al Qur”an menghargai peribadi penyabar setara dengan dua orang biasa (Q/8: 66).

Sedangkan manusia dengan kualitas halim, Al Qur”an memberi contoh sosok Nabi Ibrahim. Dia adalah pribadi yang awwahun halim (Q/ at Taubah: 114) Al hilm itu sendiri dapat diartikan sebagai akal, tetapi akal bukan sebagai problem solving capasity, melainkan akal sebagai akumulasi seluruh kecerdasan, intelektual, emosional dan spiritual.

Nabi Ibrahim sebagai sosok model seorang yang berkualitas halim, memang sangat tepat, karena pada dirinya terkumpul sifat-sifat kecerdasan, kelembutan hati, belas kasih, dan perasaan mengkhawatirkan keadaan orang lain. Ibrahim tidak memiliki perasaan marah dan benci termasuk kepada orang yang memusuhinya. Ketika Nabi Ibrahim lapor kepada Alloh SWT tentang kaumnya yang patuh dan yang durhaka, Nabi Ibrahim memohon kepada Alloh agar mengampuni dan menyayangi kaumnya yang durhaka (faman tabi”ani fa innahu minni , waman ”asoni fa innaka ghofu run rohiem (Q/14:36).

Wassalam,
Agussyafii

–

Tulisan ini dalam rangka kampanye program Kegiatan ”Amalia Satukan Hati (SEHATI)” Hari Ahad, Tanggal 14 Februari 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan komentar anda di http://agussyafii.blogspot.com atau http://www.facebook.com/agussyafii, http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 087 8777 12 431

agussyafii Uncategorized

Sebuah Rumah ”DIJUAL”

January 14th, 2010

By: agussyafii

Seorang Ibu Guru Bahasa Indonesia salah satu SMA yang terlihat cantik menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang bertuliskan ”DI JUAL” mengetuk pintu sambil menyapa, ”Selamat siang Pak.” Pemilik rumah dengan bahagia bergegas menyambut sang tamu.

Pemilik rumah adalah seorang bapak membukan pintu dan langsung berkata, ”Silahkan masuk Bu, Rumah ini luas tanahnya 350 M2, kamarnya ada 4, dan satu kamar pembantu dengan kamar mandinya di dalam, semua sudah bersertifikat hak milik dan ada IMBnya,” kata bapak pemilik rumah penuh semangat mempromosikan rumahnya.

”Maaf Pak, saya kemari bukan hendak beli rumah, tetapi mau memberitahukan, plang tulisan ”DI JUAL” yang dipasang di depan rumah sebaiknya DI-nya disambung dengan kata JUAL sebab JUAL itu bukan nama tempat, Pak. Jadi penulisan yang benar adalah ”DIJUAL” bukan DI JUAL”

Bila anda sebagai pemilik rumah, kira-kira apa tanggapan anda dengan yang disampaikan ibu guru? Terserahlah mau DIJUAL atau DI JUAL kek, yang penting rumah saya laku. Mungkin begitu jawaban anda.

Begitulah dalam kehidupan kita sehari-hari, adakalanya formalitas, kosa kata benar salah seringkali telah menghabiskan energi kita untuk berbuat kebaikan. Padahal apapun yang kita lakukan bila bermanfaat untuk orang lain itulah esensi dari pelajaran agama. Einstein mengatakan, agama yang hakiki adalah hidup dengan seluruh jiwa dan raga seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang. Bahkan Baginda Nabi Muhamad SAW bersabda, ”Sebaik-baiknya manusia adalah bermanfaat bagi orang lain.”

Wassalam,
agussyafii


Yuk, sambut satu cinta untuk anak-anak Amalia. Dalam kampanye program ”Satu Cinta Untuk Amalia (TALIA)” Hari Ahad, Tanggal 17 Januari di Monas (Momumen Nasional) Jakarta. Kirimkan dukungan dan komentar anda di http://agussyafii.blogspot.com atau http://www.facebook.com/agussyafii, http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 087 8777 12 431

agussyafii Uncategorized